Untuk sahabat
Mereka tersenyum di bawah hangat terik matahari di pagi hari, menikmati hembusan angin dengan sentuhan aroma dedaunan. Percikan air sungai menyapu lumut yang kering di atas bebatuan. Mereka tertawa renyah di temani oleh asap tungku yang kian lama kian membakar kayu dan ranting- ranting kecil di dalamnya. Menikmati hasil olahan yang mereka buat dengan segumpal garam dan tumbukan bawang putih. Harum. Aroma harum menyesak ke dalam stomata dedaunan yang menempel di ujung ranting- ranting yang tumbuh subur di pekarangan rumah. Mereka tersenyum memandang satu sama lain sambi sesekali menjilati daun pisang tempat mereka menaruh olahan mereka tadi. Arus sungai jernih berhiaskan bebatuan kecil berderu indah di balik hijaunya rerumputan. Mereka asik bermain dan terus bermain sampai matahari yang tengah naik sepenggalan menyisakan cerita dan keceriaannya.
Demi kebahagiaan yang telah terpancarkan,
Demi cinta yang telah tertanamkan di dalam hati,
Demi kerinduan yang kini terasa merobek relung jiwa dalam Qalbu,
Demi masa indah dalam sunyinya asam manis kehidupan,
Demi memori yang telah melekat erat dalam kesucian canda dan tawa,
Demi persahabatan di masa lalu yang takan mungkin dapat terlulang kembali dalam sejarah kehidupan dunia yang sungguh fana.
Takan pernah ada yang abadi hingga kau kini terkulai lemah di balik kemelut kehidupan yang mungkin menyiksa batin mu. Sampai anak- anak manusia itu mungkin takan pernah lagi bermain dalam kefatamorganaannya dunia.
Mereka bukan malaikat kecil, juga bukan perhiasan yang mampu menyilaukan dan menyenangkan mata pelihatnya. Mereka hanyalah anak manusia yang ingin bermain di dalam beningnya kehidupan dan bernyanyi riang walaupun yang dapat mengerti hanyalah alam.
Tempat mereka adalah di sini..
di sebuah pekarangan rumah yang kokoh berdiri di atas sebuah ladang hijau. Dimana langit yang menaunginya mengisahkan guratan kenangan.
Tak terasa titik air mata ini membasahi pipi, terus mengalir hingga akhirnya ikut membasahi bibir yang kelu.
Sahabat, takan pernah kita mengulang kembali segalanya seperti yang pernah terukir di kanvas kehidupan kita. Waktu terus berjalan kedepan. Stiap hari yang tersisa hanyalah kenangan. Mungkin waktu dapat menghapus segalanya, tapi sesungguhnya ada satu yang dapat menjadi penawar dari sgala kenangan yang kini hampir sirna. Dia adalah hati.
No comments yet.
Leave a Reply
-
Archives
- July 2009 (1)
- June 2009 (1)
- April 2009 (3)
- March 2009 (2)
- February 2009 (2)
- January 2009 (2)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS

